Buktikan………..

Di pagi hari tiba-tiba ada yang menyapa, “Bid, pagi-pagi mau kemana kok sudah rapi?”,Dimas bertanya. “Aku bahagia mau menjelaskan soal waktu lamaran ke keluarga calon, doain yak”, Jawabku. Kusiapkan hati dan mentalku, kutata kata-kataku, kupanasi motor merahku yang selalu menemaniku kemanapun kurang lebih 7 tahun. Setelah siap, ku gas dengan semangat untuk berangkat. “Semangat ya Bid semoga sukses”, kata Dimas menyemangatiku.

Oh iya namaku Abid, pekerjaanku hanya staff IT merangkap jadi ojol Grab. Maklum aku harus bekerja keras untuk menggapai cita-citaku yang sangat beharga yaitu menikah dengan pasanganku yang sudah kuperjuangkan selama ini. Dari Jogja ku berangkat menuju kota Klaten Bersinar. Kurang lebih 1,5 jam ku tempuh, tapi capek pun tak terasa karena tertutup semangat yang membara.

Sesampai di depan rumahnya, Ayu menyapaku dan mempersilakanku seperti biasanya. Sambil kutunggu Bapak Ibunya datang, kuperhatikan wajahnya kok ada raut kesedihan dan kegelisahan yang mendalam. Ku tanya,”Kau kenapa Ay? Ada hal yang ingin diceritakan?”. “Nggak papa kok , nunggu bapak ibu dulu saja”, Jawabnya. Semakin penasaran dan ada keanehan kondisi di benakku.

Didiamkannya aku hingga ditinggal tidur. Setelah Bapak Ibunya sudah berkumpul, ku utarakanlah niatku yang ingin melamarnya bersama orang tuaku. Setelah itu orang tuanya tiba-tiba menasihatiku dengan banyak sekali soal orang yang mau menikah. Kuterima dengan lapang dada, namun setelah itu aku ditanya kesiapan dan kemantapan hati untuk melamar putrinya dan ku jawab,”Saya siap melamar dan menikahinya sekaligus bertanggungjawab atas segala hal yang berhubungan tentang saya dan Ayu”. Kemudian Bapaknya bertanya ke puterinya dengan pertanyaan yang sama yaitu tentang kesiapan dan kemantapan untuk hidup bersamaku. Tiba-tiba dia menangis dan itu membuatku sangat degdegan penasaran. “Setelah masalah kemarin, aku rasa sudah tidak ada rasa cinta kepadamu mas, dan aku belum bisa untuk hidup bersamamu”,Jawabnya.

Terasa beku hati dan pikiranku antara sedih, kaget, marah, kecewa bercampur jadi satu yang membuatku terdiam beberapa saat. Selanjutnya orang tuannya memberikanku waktu untuk berdiskusi dengan anaknya untuk menyelesaikan masalah ini. Setelah orang tuanya pergi, sekokoh-kokohnya aku, sekuat-kuatnya aku tak kuasa buat menahan air mata yang menetes.

Kemudian saat ku tanya kenapa, dia menjawab,”Aku ragu setelah kau bilang akan memutuskan apabila kejadian kemarin terulang lagi meskipun setelah lamaran. Selain itu aku tidak mau kalau dilarang untuk bekerja sesuai ambisi kesenanganku, apalagi sekarang gajimu masih segitu, aku khawatir aku tidak bisa memberi uang ke orangtuaku jika aku tidak bekerja dan aku mau menguliahkan adikku dengan uangku”.

Ku jawab satu persatu,”Aku bilang itu karena aku takut nantinya setelah berkeluarga jika ada masalah, sedikit-dikit bilang ke orangtua tanpa berusaha menyelesaikan masalah sendiri, mohon maaf jika perkataanku keliru. Cuma aku mau kita dewasa dalam bersikap, emosi boleh tapi jangan lama-lama dan cepat cari solusi makanya berdiskusi. Kemudian kau mengkhawatir gajiku tidak bisa mencukupimu?”, Tanyaku. “Menikah adalah ibadah dan jika kau meragukan niat dan usahaku untuk bertanggungjawab atasmu karena gaji, berarti kau menyepelekkan usahaku padahal belum jadi suami, apalagi kalau sudah jadi suamimu kau akan terus menyepelekkan aku”, Aku terus menjelaskan lama sekali. “Menikah bukan soal materi, karena itu masih bisa dicari, ingatlah perjuangan kita yang sangat lama agar bisa mencapai hidup bersama, menikah itu untuk beribadah dan mencapai kebahagiaan bersama dunia dan akhirat”, Kataku.

“Sungguh aku mohon maaf atas segala kesalahanku mulai awal bertemu sampai sekarang, saya sekarang datang utuk menepati janji dan berusaha membahagiakanmu meskipun diterpa masalah besar sekalipun, dan sungguh aku kecewa gara-gara hal itu saja kau sampai begini, padahal dulu-dulu banyak masalah yang lebih besarpun kau tetap kuat, kita tetap kuat bersama menghadapi”, Ucapku dengan perasaan penasaran apa penyebab utama yang ada dibalik kata-katanya ini. Kemudian dia memberiku kesempatan namun harus sabar menunggu untuk dia cinta lagi kepadaku. Yah aku siap, di dalam hatiku ini harus dibatasi karena ku ingin serius kejenjang yang lebih, jika tak terbatas waktunya ya sama saja saya mengharapkan sesuatu yang belum tentu kembali. Setelah itu saya pulang membawa rasa kecewa harus menunda acara penting ke semua orang yang telah kuhubungi. Kalau urusan pekerjaan aku tidak melarang, namun menyarankan agar berpikir dewasa, kalau sudah menikah dan pekerjaannya masih seperti ini berangkat pagi dan pulang larut malam apakah bisa melaksanakan kewajibannya sebagai istri. Setidaknya ada waktu ngobrol berdua saja belum tentu bisa karena pasti capek pulang kerja, dan itu berlangsung setiap hari. Mau dibawa kemana keluarga kita kalau kau masih mementingkan kepentingan pribadi, carilah pekerjaan lain yang jam kerjanya jelas tidak memforsir diri, kasihanilah kesehatanmu dan ragamu. Jika seperti itu tiap hari tidak menutup kemungkinan kemandulan karena hidup tidak sehat.

Aku pasrahkan ke Allah dan memohon petunjuk, dan beberapa hari kemudian pun ibunya ingin bertemu denganku untuk bicara 4 mata. Hari Jumat waktu jam istirahat setelah Jumatan kutemui ibunya. Dan ibunya bertanya,”Mengapa kok Ayu tidak boleh bekerja setelah menikah, apalagi sekarang mau di naikkan jabatannya?”. Di hatiku bergeming ,”Oh karena ini kau bersikap begini yang berubah 180Β° dari 4 tahun yang sudah baik menjadi begini kurang lebih setahun belakangan ini yang paling parah 2 bulan terakhir”.

Kujawab ke ibunya, “Saya tidak melarang, tapi mengajak untuk berpikir lebih luas kedepannya jika jadi berkeluarga, tidak hanya punya dirinya dan keluarganya sendiri. Dia punya suami dan keluarga suami sekaligus anak nanti. Akankah kau tega menelantarkan anak karena ambisinya untuk membahagiakan orang tua. Membahagiakan orangtua wajib, tapi kalau nikah tidak cuman itu yang dipikirkan, banyak tanggung jawab yang harus dipenuhi, maka alangkah baiknya kalau sudah mempunyai anak fokuslah memberikan ilmumu selama ini pada anak agar anak lebih cerdas dari orangtuanya bukan malah menitipkan ke babbysister atau nenek kakeknya”.

“Jika Ayu masih kekeh dan sulit diarahkan oleh suaminya nanti dan yang didengarkan cuma saran dari orangtuanya ya sama saja suami tidak ada harga dirinya. Padahal itu untuk kesehatan, dan kenyamanannya, cukup aku saja yang berjuang keras menghadapi segala jenis masalah, dan kamu berjuanglah di rumah dengan buka usaha sambilan atau bekerja di kantor yang tidak menyita hidupmu sehari semalam itu akan berpahala yang sangat besar”, Ku curahkan semua ke ibunya.

Ibunya bilang ,”Iya aku tau kamu pasti bertanggung jawab atas masa depannya Ayu, namun aku juga tidak mau memaksakan anak, tapi aku juga kasihan terhadap masa depannya apalagi umurnya sudah 24 thn, sudah berumur. Takutnya kesehatan rahimnya berkurang”. Terimakasih bu sudah menyempatkan waktu buat saya curahkan apa yang ada di dalam hati, aku tidak memaksakan anakmu bu. Mulai 2 bulan terakhir dia sudah berubah prinsip dan tujuan hidupnya, belok dari rencana yang telah kita bangun selama ini gara-gara mengejar jabatan yang lebih tinggi. Jika dia sudah belok dan tidak mau diluruskan berarti kita sudah tidak ada dalam satu jalan ke masa depan. “Nanti kalau Ayu tetap kekeh dengan pendiriannya kau jangan kecewa dan tolong mintakan maaf ke orangtuamu”,Kata Ibunya. Saya jawab,”Iya bu saya ikhlas, yang terpenting saya sudah berjuang untuk memperbaiki ini, namun jika diacuhkan selama berminggu-minggu tanpa respon baik dari usahaku ya lebih baik kita jadi teman saja bu.” Yang terpenting sudah berusaha maksimal.

Memperjuangkan sesuatu yang tidak ada kepastiannya, itu percuma

Setelah itu aku dan ibunya berpisah, beliau mau pulang dan aku lanjut bekerja. Dengan semangat bekerja akan kubuktikan nanti di depan aku akan lebih sukses darimu dan kau akan terus begitu ambisius selamanya.

Rezeki merupakan buah dari kasih sayang Allah ke hambanya, jangan kau kejar jumlahnya tapi kejarlah barokahnya. Selain itu jangan kau nafsu mengejar rezeki melebihi nafsumu mengejar Allah. Karena jika kau mengejar Sang Pemberi Rezeki dengan cinta, rezeki akan otomatis mengejarmu

Semuanya akan kuputuskan untuk hal yang terbaik agar kau tidak terbebani dengan aku dan kau tidak terus meremehkanku atas dasar kasihan. Ini sudah bukan bagian dari cinta, kuhargai keputusanmu dan semoga kau dapatkan yang kau ambisikan. Yang terpenting sudah kubuktikan janjiku untuk melamarmu dan menikahimu jika sudah bekerja. Dan itu sudah kau tolak.

Aku emang egois dan kamu juga egois, tapi aku begini untuk kau agar tetap sehat dan shalihah dunia akhirat. Bukan ambisi hanya untuk harta, dan jabatan. Namun aku bersyukur telah disadarkan sekarang oleh Allah agar tidak hancur di masa depan nanti.

“Sebelumnya mohon maaf jika ini menyinggung perasaan pembaca, ini hanya cerpen ambil baiknya dan buang buruknya.”

By : SuLtan_nganyeLin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s